What Can I Do

And I just got to let it go. And who knows I might feel better, yeah. If I don’t try and I don’t hope

[Soundtrack : The Corrs – What Can I Do]

aku membuka bajuku yg basah, penuh keringat. yup. latihan fisik ku kali ini aku tambah 5x lipat. FYI, total seluruh latihan cardio dan beban sebanyak 10 gerakan atau 10 seri, masing masing seri ku ulang 5-10 kali. dikali 5 kali lipat…

Latihan yang cukup ‘cadas’ , kalau mengingat, sebelumnya atau malamnya aku hanya tidur 1 jam. untungnya, aku masih hidup pagi ini. kalau tiba tiba terjadi sesuatu padaku, itu berarti aku mengalami kejadian yang sama seperti alm suami Bunga Citra Lestari. Ashraf.

aku minum di gelas dan kutaruh di atas meja, sementara dua telapak tanganku menyentuh kedua sisi meja lurus dengan tekanan yang agak keras, membuat meja jati bundar itu hampur terbalik. pikiran ku kosong, begitu pula tatapan mataku. menatap ke jendela dapur.

Aku lalu melihat tubuh ku sendiri yang masih berkeringat, mulai dari bahu pelan kemudian dada, urat dan ototku mengembang keras, lalu kulihat bekas luka tembak, di dada kananku. luka lama. untung gak menembus paru-paru dan tulang bahu ku…kalau ditekan, rasa nyeri bekas luka itu masih terasa. ya seperti orang indonesia, selalu bilang, untung… masih untung… untungnya…

beginilah resiko menjalankan tugas negara. pikirku, menghibur diri. tetapi, lucunya.. terlepas dari semua prestasi ku di pekerjaanku, dibalik semua ketidaksuksesan pribadi ku sebagai individu, aku selalu beralasan dengan kalimat sakti di atas ..”beginilah resiko menjalankan tugas negara”. klise..basi..

..dan sebagai hukumannya, ya begitulah, aku push fisik ku to the limit. gak kasih kendor.. sama seperti yang kulakukan pagi ini. semua energi negatif yang menumpuk, aku konversi dan hempaskan menjadi energi positif dengan cara seperti ini….

aku gagal? big NO.pikirku .. mencari pembenaran , tapi kurang tepat rasanya.

hm, okay. tiap manusia, punya kelebihan dan kekurangan. dan kekuranganku adalah dalam hal ini. pikirku… rasanya, lebih nyaman dan pas.

Aku baru dapat pesan singkat di HP tengah malam, dari wanita yang kucintai ..kunikahi 8 tahun yang lalu. pesannya pun singkat. yaitu ” lebih kita pisah bak baik mas…ku mohon, demi anak-anak”

itu isi pesannya.

dan ku akui semua ini salahku, dengan alasan apa?? yaa, beginilah resiko menjalankan tugas negara. Fuk! tak terasa, aku menghajar meja jati itu dengan sekali hentakan…brakkk. salah satu kaki meja jati itu tiba tiba tidak seimbang karena retak dan meja jati pun menjadi miring… ” ah siyal!” aku memaki diri ku sendiri. karena membuat pekerjaan rumah ku bertambah.

tiba-tiba, anaku yang paling kecil, Andri.. muncul di belakangku. tanpa kusadari. dan berkata

” ayah… kenapa??” .. sambil memegang boneka pandanya, dan mengucek matanya yang masih rapat. ” hm, gpp nak..” jawabku cepat. “ayah marah sama ibu yaa?” tanya andri polos tanpa beban.

“marah kenapa?” aku melihatnya sambil tersenyum. pantang bagiku, marah dihadapan anak, pantang bagiku berkeluh kesah di hadapan anak dan mengharamkan anak anakku mengetahui masalah dan kesulitanku…

” ibu… pacaran lagi ya?” kali ini mimik andi menjadi serius, kepalanya miring ke sebelah kanan. tanda berpikir..

” hush, ngaco kamu nak..” aku kaget, walaupun aku yakin cepat atau lambat, andri pasti tahu.

” kak Gina yang bilang…” sambungnya. ” hm.. jangan di dengerin ah” aku kini tau siapa sumbernya, ternyata anakku yang pertama. ” mama itu lagi nengok nenek..nenek lagi sakit” jawabku tenang.. dalam hal kontrol emosi dalam keadaan genting dan tertekan, aku ahlinya. aku sudah terlatih…

” yah, ..” andri memanggilku.. ingin menyampaikan sesuatu. ” yaa sayang.. apah?”

” kata ustazah ku, kalau kita kehilangan sesuatu.. berati itu bukan yang terbaik buat kita” sambung andri, anakku yang baru berusia 5 tahun. dan aku tersentak. kaget.

” aku sayang ayah…” sambung andri, sambil membuka kedua tangannya lebar seperti ingin memeluk tubuhku yang tinggi besar. aku langsung memeluk anakku andri erat…

” ayah juga sayang banget sama andri, … sama Ka Gina, sama Ka Dina…ayah sayang kalian semua!” gak terasa, mataku berkaca-kaca karena ber air. kutahan agar airnya tidak menetes.

” yah, aku mau bangunin ka Gina dan Ka dina dulu ya. andri laper… aku mau ka Gina dan Ka dina masakin nasi goreng buat ayah..” andri berkata, seolah merasa iba dan empati padaku. seolah ingin menghiburku..

” iyah , sanah gih.. udah siang nih” jawabku… lalu andri kembali jalan ke dalam. ke kamar..

aku terdiam. kali ini pikiranku dan tatapanku tidak kosong lagi. pikiranku menjadi jernih, hatiku jauh lebih tenang. aku ingat ‘petuah’ anakku yang baru 5 tahun…

yah, mungkin.. dia bukan yang terbaik bagiku. Inilah jawaban yang tepat!

so let it go, …who knows I might feel better, if i dont try and i dont hope..

lalu aku berdoa, semoga aku mendapat ganti yang lebih baik, bukan untukku saja. tapi khususnya, bagi anak-anakku tercinta…

– selesai –

%d bloggers like this: