Nuansa Kasih

Segalanya pasti semakin cerah, Kala harapan searah secita

[Soundtrack : Nuansa Kasih — Sandro Tobing]

Bismillah.

Tepat pukul 12.30 malam, aku berjalan ke gate 8 bandara Soekarno Hatta, membawa Pasport dan tiket pesawat Saudi Airlines dengan tujuan Jeddah. Boarding pass dan stempel imigrasi harus kulewati, walau badan ni sudah agak lelah dan perut terasa sangat lapar.

Semangat untuk berangkat mengunjungi Ka’bah dan ziarah ke Makam Rasulullah SAW, membuatku melupakan semua kesulitan dan masalahku. Ada rasa rindu yang sulit untuk diungkap, jika aku mengingat kedua tempat tsb di atas, rasa rindu yang mampu mengalihkan rasa rindu lainnya di dalam hati…

Alhamdulillah, aku berangkat sendirian. sengaja memang. Ada satu hajat dan keinginan yang aku ingin sampaikan di Tanah Suci.

MADINAH

Azan subuh berkumandang. semua orang dari berbagai suku bangsa dan negara nampak berbondong bergerak menuju masjid Nabawi. Aku berjalan sendirian, teman sekamarku sudah berangkat duluan.

Lobby hotelku berada di balik Masjid, tapi posisinya dekat dengan gerbang masuk ke pelataran Masjid Nabawi. tidak jauh dari pintu keluar lobby, aku melewati toko souvenir dan pernak pernik Madinah, lalu toko emas, dan terakhir apotik.

Orang sudah banyak berkumpul dan bersiap-siap untuk solat di pelataran masjid yang sangat luas. tapi aku tetap berjalan ke arah pintu masjid, berharap mendapat tempat di depan, dekat dengan Raudhah, Taman Surga, yaitu sebuah area masjid Nabawi yang asli. ditandai dengan karpet putih.

Angin dingin di bulan Desember, terasa menusuk kulit hingga menembus tulangku. lantai masjid Nabawi terasa sangat dingin dan rasanya membuat kaki ku beku. Posisi Raudhah nampak di hadapanku. berjubel penuh sesak dengan orang.

Aku berdoa sejenak, mohon kemudahan. lalu berjalan , berharap mendapat kesempatan untuk berdiri dan berdoa di sana. tapi Iqomat sudah berkumandang, ada bagusnya juga karena akhirnya aku mendapat tempat dekat dengan Raudhah. setelah selesai solat, aku bisa langsung bangkit dan menuju ke Raudha. pikirku.

Imam masjid Nabawi, melantunkan ayat ayat suci dengan khidmat. rasanya gak bosan dan betah banget mendengarnya. walaupun surat yang dibaca yaitu surat Yasin ayat 1 – 20. tapi nyaman banget.

Selesai, aku akhirnya dapat masuk dan berdiri di Raudhah. aku sujud syukur, dalam hati. tidak mungkin sujud karena posisinya sangat padat. lalu aku berdoa, memohon kepada-Nya. sesuatu yang aku ingin sampaikan dari tanah air… sesuatu yang amat penting. yang aku sendiri gak kuasa untuk mewujudkannya, kecuali dengan izin dan ridho-Nya…

Setelah itu, aku keluar dari area Raudhah dan menuju makan Nabi SAW. aku berhenti sejenak, di depan pintu emas yang di jaga Askar, yang didalamnya ada makam Nabi SAW. tak lama, karena aku diusir, aku mundur sedikit ke balakang. dan aku berdoa…juga berdialog, seolah Nabi SAW ada di hadapanku…

aku terdiam… semua doa hilang dalam ingatan. aku seolah tidak bisa berkata apa apa, walau hanya dalam hati. Akhirnya, kata kata spontan tak terasa keluar dari mulutku secara halus dan nyaris tidak terdengar..

Ya Nabi, salam alaika , Ya Rosul salam alaika..
aku datang mohon izin dan restumu, untuk menikahi Dzuriyat mu,
Dzuriyat yang mewarisi Martabat dan Keagunganmu, dari keturunan Putri mu Ya Rasul,
yang mewarisi martabat dan kemuliaan suami dari Putrimu ya Rasul…
iaitu dia yang bernama (….. binti …..)

aku diam. terpejam, hatiku tunduk, seolah menunggu nabi mengangguk dan memberikan restunya…

– bersambung –

 

%d bloggers like this: